Lesunya perekonomian global mengakibatkan ekspor melemah, sementara
pertumbuhan industri domestik yang kuat menyebabkan impor tetap kuat.
Hal tersebut menjadi penyebab terjadinya neraca perdagangan negatif yang
dialami Indonesia pada bulan April hingga Juli 2012. Namun, pada bulan
Agustus dan September, neraca perdagangan kembali menunjukkan angka
positif.
“Yang menggembirakan adalah dalam 4 bulan
berturut-turut kita mengalami defisit perdagangan, tapi Agustus hingga
September kita sudah surplus,” kata Menko Perekonomian, Hatta Rajasa.
Diperkirakan
angka neraca perdagangan akan tetap positif hingga akhir tahun 2012.
Secara keseluruhan, neraca perdagangan tahun 2012 masih positif,
sehingga dapat mendorong peningkatan devisa. Nilai cadangan devisa
hingga bulan September diperkirakan akan mencapai angka US$ 110 miliar.
Tingkat impor yang tinggi didominasi oleh raw material (bahan baku) dan capital goods
(barang modal) dengan persentase sebesar 93%. Sebaliknya, impor barang
konsumsi terbilang kecil, yaitu 7%. Secara rata-rata, impor barang modal
tumbuh sebesar 33,9% setiap bulannya, tepatnya mulai Januari hingga
Agustus 2012, bila dibandingkan pada periode yang sama di tahun
sebelumnya. Sementara impor barang konsumsi hanya meningkat sebanyak
5,4% di periode yang sama. Hal ini menunjukkan besaran tingkat impor
memacu investasi dan produktivitas industri dalam negeri untuk terus
tumbuh dan berkembang. Produktivitas ini diharapkan mendorong
pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan tenaga kerja, sehingga lapangan kerja
baru dapat tercipta. Dengan terciptanya lapangan kerja baru, maka
diharapkan tingkat pengangguran di Indonesia akan menurun.
Tren
investasi di Indonesia pada tahun 2012 terus meningkat secara
berkesinambungan. Berdasarkan data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal
(BKPM), realisasi investasi pada bulan Januari - September 2012 adalah
Rp 229,9 triliun yang merupakan peningkatan sebesar 27,0% dari periode
Januari - September 2011 sebesar Rp 181,0 triliun. Nilai tersebut
terdiri dari penanaman modal asing Rp 56,5 triliun dan penanaman modal
dalam negeri Rp 26,2 triliun. Aktivitas investasi di Indonesia terus
meningkat seiring dengan kestabilan pertumbuhan ekonomi nasional pada
tahun 2012 dengan rata-rata pertumbuhan Rp 5 triliun di tiap triwulan,
dari triwulan I ke triwulan III.
“Jadi jika digabungkan dengan kondisi investasi kita, secara total kondisi current account
Indonesia mengalami penurunan defisit, dari 3,1% menjadi 2,3%.
(Kondisi) ini sangat bagus,” ujar Pak Hatta. Sampai dengan triwulan III
2012, sebagian besar investasi asing maupun dalam negeri masuk ke sektor
industri sekunder, dengan nominal US$ 8,59 miliar untuk Penanaman Modal
Asing (foreign direct investment/FDI) dan Rp 38,11 triliun untuk Penanaman Modal Dalam Negeri (domestic direct investment/DDI).
Nilai investasi dari Data BKPM tersebut belum termasuk sektor migas,
perbankan, lembaga keuangan non-bank, asuransi dan industri rumah
tangga.
Realisasi investasi yang ada di Indonesia mayoritas
berada di daerah pulau Jawa, yaitu sekitar 53,5% atau Rp 122,9 triliun
dari total investasi yang ada di Indonesia. Dari data tersebut terlihat
bahwa investasi yang ada di Indonesia lebih terpusat di pulau Jawa. Oleh
karena itu, untuk ke depannya investasi di Indonesia diharapkan terus
meluas hingga luar pulau Jawa. Hal ini dikarenakan sumber daya yang
tersedia di luar Jawa memiliki potensi untuk investasi yang sangat
besar, sehingga nantinya akan lebih meningkatkan kondisi investasi dan
perekonomian Indonesia.
Dalam rapat kinerja bidang perekonomian,
Kepala BKPM Chatib Basri menyatakan optimismenya terhadap keberhasilan
pencapaian target investasi Indonesia yang telah ditetapkan pada tahun
ini. Hal tersebut juga turut didukung oleh tren dan pencapaian investasi
yang telah terjadi hingga September 2012. Beliau juga menjelaskan
terjadinya pergeseran investasi dari natural resources kepada manufaktur untuk industri kimia dan mineral dan logam seperti keramik, semen dan pasir, serta transportasi.
Kendala
yang masih sering dihadapi dalam peningkatan investasi ini masih karena
permasalahan-permasalahan klasik seperti perijinan, infrastruktur dan
buruh. Misalnya yang dialami investor Jepang yang sering di demo di
China sehingga mereka keluar dari negara tersebut dan berencana untuk
memindahkan investasinya ke Indonesia. Namun, bila hal itu terjadi di
Indonesia, maka mereka akan membatalkan atau memindahkan investasinya ke
negara lain. (adv)
Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2012/10/27/12543465/Arus.Barang.dan.Modal.Pacu.Pertumbuhan.Investasi.Indonesia
Analisis : lemahnya perekonomian global mengakibatkan ekspor melemah, sementara pertumbuhan industri domestik yang kuat menyebabkan impor tetap kuat.kinerja bidang perekonomian menjelaskan terjadinya pergeseran investasi dari natural resources kepada manufaktur untuk industri kimia dan mineral dan logam seperti keramik, semen dan pasir, serta transportasi. Kendala yang masih sering dihadapi dalam peningkatan investasi ini masih karena permasalahan-permasalahan klasik seperti perijinan, infrastruktur dan buruh
Analisis : lemahnya perekonomian global mengakibatkan ekspor melemah, sementara pertumbuhan industri domestik yang kuat menyebabkan impor tetap kuat.kinerja bidang perekonomian menjelaskan terjadinya pergeseran investasi dari natural resources kepada manufaktur untuk industri kimia dan mineral dan logam seperti keramik, semen dan pasir, serta transportasi. Kendala yang masih sering dihadapi dalam peningkatan investasi ini masih karena permasalahan-permasalahan klasik seperti perijinan, infrastruktur dan buruh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar